JURNALISHUKUM.COM, TANGERANG – UPTD Puskesmas Balaraja terus berkomitmen menekan angka prevalensi stunting melalui berbagai langkah strategis.
Kepala Puskesmas Balaraja, dr. Hj. Ai Siti Zakiyah, menyampaikan bahwa pengentasan kasus stunting menjadi prioritas utama untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas di wilayah kerja Puskesmas Balaraja dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045.
“Program yang kami jalankan tidak hanya menyasar ibu hamil dan anak balita, tetapi juga memberikan perhatian khusus kepada remaja putri. Mereka diberikan tablet penambah darah untuk mencegah anemia sejak dini, sebagai langkah awal menciptakan generasi bebas stunting,” ujar dr. Ai kepada tim Diskominfo.
Hingga saat ini, sebanyak 4.825 pelajar putri tingkat SMP/sederajat dan SMA/sederajat di wilayah Puskesmas Balaraja telah menerima tablet penambah darah.
Program ini juga berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan melalui program Garasi Gemilang.
Melalui program tersebut, angka anemia pada remaja putri berhasil ditekan dari 508 kasus di tahun 2023 menjadi hanya 156 kasus di tahun 2024.
Selain itu, Puskesmas Balaraja juga menyediakan layanan “Calon Pengantin Kondisi Sehat Prima” (Catin Kasep) setiap Senin hingga Sabtu. Pada tahun 2024, sebanyak 905 pasangan calon pengantin telah menjalani pemeriksaan kesehatan, vaksinasi tetanus bagi calon pengantin perempuan, serta pemberian tablet penambah darah jika terindikasi anemia. Setiap pasangan juga diberikan sertifikat Catin setelah pemeriksaan selesai.
Lebih lanjut, Puskesmas Balaraja bekerja sama dengan PT Adis Dimension Footwear melalui program “Badut Gemas” (Balita di Bawah Dua Tahun Masa Emas).
Program ini meliputi pemberian makanan tambahan (PMT), pemeriksaan kesehatan, serta edukasi kepada lima ibu dan balita stunting.
“Setelah mendapatkan PMT dan edukasi, terlihat adanya perubahan perilaku ibu dalam memberikan asupan makanan kepada balita. Harapannya, balita bisa tumbuh dan berkembang dengan baik,” tambah dr. Ai.
Terkait angka stunting, dr. Ai memaparkan bahwa pada tahun 2023 terdapat 67 kasus balita stunting di wilayah Puskesmas Balaraja.
Angka tersebut sempat meningkat menjadi 133 balita pada tahun 2024, seiring dengan pelaksanaan program “Gebrak Posyandu” yang mewajibkan ibu balita datang untuk penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, dan pengecekan kesehatan.
Namun, per Januari 2025, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 100 balita stunting.
“Di tahun 2025 ini, kami meluncurkan program ‘Keping Emas’ (Kader Pendamping Masa Emas). Program ini akan mendampingi ibu hamil berisiko stunting hingga melahirkan, dan bayi tersebut akan mendapatkan pendampingan hingga kondisinya normal,” jelasnya.
Dr. Ai berharap, melalui berbagai upaya tersebut, masyarakat semakin sadar akan pentingnya memeriksakan kesehatan ibu hamil dan balita secara rutin ke puskesmas atau posyandu terdekat.
Dengan demikian, tumbuh kembang bayi dan balita dapat dipantau dengan baik, sehingga angka stunting di wilayah Puskesmas Balaraja terus menurun. (Sarman/Adv)










