JURNALISHUKUM.COM, BATANGHARI – Isu yang lagi viral di dalam wilayah Kabupaten Batang Hari Provinsi Jambi, dengan merencanakan lahan cetak sawah yang kini tidak sesuai dengan harapan. Pasalnya, lahan cetak sawah untuk ketahanan pangan nasional kini digenangi air yang meluap dari sungai kecil dan sungai batanghari serta pasca terjadinya hujan yang akhir-akhir ini melanda daerah setempat.
“Bagaimana perencanaannya, sehingga lokasi lahan tidur yang disulap menjadi lahan cetak sawah yang mudah digenangi air. Sehingga jauh dari harapan untuk kita jadikan program ketahanan pangan dengan luas ratusan hektar melalui bantuan Kementerian Pertanian seluas 783,11 hektar,” kata Adi, warga di Kecamatan Muara Bulian.

Dia juga mengatakan, secara logika dan juga warga yang setiap hari melihat kondisi lahan cetak sawah yang baru diresmikan oleh kementerian pertanian belum lama ini menikah, bahwa untuk kondisi lahan yang mudah digenangi air ini tidak cocok untuk dijadikan lumbung pangan.
“Coba lihat di lokasi lahan cetak sawah di belakang pasar keramat tinggi Muara Bulian, di lokasi ini lahan cetak sawah berdampingan dengan sungai dan air sungai tersebut sama datarnya dengan lokasi lahan cetak sawah yang baru selesai dikerjakan dan kondisi sekarang sudah tergenang banjir,” ujarnya.

Senada dikatakan, Amri, warga kecamatan Mersam, bahwa setiap melintasi Pasar Muara Tembesi yang ada lahan yang sudah dijadikan lahan cetak sawah sudah digenangi air dan seperti lautan. Dan kondisi lahan cetak sawah tersebut berada dekat dengan sungai batanghari.
“Mubazir uang rakyat membangun lahan cetak sawah itu dan anggaran untuk membuka lahan pertanian seperti ini pasti besar akan tetapi potensi lahannya sangat memprihatinkan, sebab lokasi tersebut menurut saya tidak layak dijadikan lahan cetak sawah, karena lokasinya di dataran rendah,” jelasnya.

Perlu diketahui, proyek raksasa lebih kurang 783 hektar ini tersebar di tujuh kecamatan yang katanya siap menjadi sentra pangan baru, seperti Kecamatan Batin 24: 225,78 hektar, Kecamatan Muara Bulian: 198,48 hektar, Kecamatan Muara Tembesi: 134,27 hektar, Kecamatan Mersam: 93,34 hektar, Kecamatan Marosobo Ulu: 76,15 hektar, Kecamatan Marosobo Ilir: 30,79 hektar, Kecamatan Pemayung: 24,30 hektar.
Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Panganan Pertanian dan Perikanan Batanghari, Roma Uliana kepada wartawan belum lama ini menegaskan bahwa program ini adalah inisiatif penuh pemerintah pusat untuk membuka lahan pertanian baru.
“Jadi lokasi-lokasi yang berpotensi untuk dibuka menjadi lahan sawah, akan dibantu pemerintah,” jelas Roma.

Penting dicatat, lahan yang dibuka ini adalah lahan baru, bukan bagian dari lahan baku sawah (LBS) yang sudah ada. “Syarat untuk cetak sawah tuh, dia harus di luar LBS yang 8.000 (hektar) ini,” tegasnya.
Tak berhenti di situ, Roma juga membocorkan adanya harapan baru. Pihaknya mengincar “lahan-lahan tidur” untuk dihidupkan kembali melalui program rehabilitasi sawah, yang diharapkan bisa meluncur pada 2026 mendatang. (*)
Editor : Heriyanto










