JURNALISHUKUM.COM, OPINI – Ini hanya adegan remeh-temeh. Boleh di-skip. Cerita ringan di mana seorang bupati tersinggung atau merajok gara-gara pelepasan balon. Rasa mau ketawa lihat videonya.
Sambil menunggu Timnas melawan Brunei pukul 20.00 malam ini, mari kita ungkap adegan super absurd se-nusantara ini. Tentu, siapkan kopi tanpa gulanya, wak!
Pada 14 Juli 2025, langit Batang Hari yang biasanya cuma menyaksikan awan lewat dan drone ilegal terbang rendah, tiba-tiba menjadi saksi bisu peristiwa yang mengguncang akar seremonial bangsa.
Balon terbang sebelum waktunya. Kejadian ini bukan sekadar insiden biasa, tapi tragedi nasional berskala karnaval yang menggagalkan satu dari sekian banyak agenda formal.
Bahkan, pelantikan ribuan pegawai PPPK di Taman Tapa Malenggang Aek Meliuk, Jambi. Sebuah tempat yang namanya saja sudah terdengar seperti mantera untuk menahan hujan.
Segala hal telah dipersiapkan dengan maksimal. Pegawai berdandan rapi, berdiri seperti barisan semangka di swalayan, balon-balon warna-warni dibagi seperti janji-janji kampanye.
Dimana kamera sudah siap membidik dengan mode potret 0.5x, dan yang paling penting, sang Bupati Muhammad Fadhil Arief hadir langsung, dengan tatapan karismatik dan ekspresi ‘mari kita abadikan momen bersejarah ini’.
Namun, sejarah memilih jalur yang berbeda.
Tatkala sang MC, yang mungkin lulusan ilmu aba-aba kelas sore, berteriak, “Ayo siap-siap foto bersamaaa…!” seketika itu pula tangan-tangan para pegawai melepas balon, seolah-olah aba-aba itu adalah perintah resmi dari langit.
Balon-balon pun naik, mengangkasa, menari di udara dengan gembira, membentuk formasi absurd yang membuat semua kepala mendongak, bukan karena kagum, tapi karena kaget setengah sadar, loh, belum waktunya, bang!
Di detik itulah, ekspresi Bupati Fadhil Arief berubah dari bangga menjadi bingung, lalu menjelma jadi kekecewaan akut. Mukanya seperti anak SD yang tahu bekalnya dimakan kucing.
Acara yang seharusnya berlangsung heroik berubah menjadi chaos elegan. Para pegawai saling menatap, berharap bisa menjelaskan bahwa mereka hanya salah paham, bukan pemberontak konstitusi balon.
Akibat insiden “Balon Durhaka” ini, penyerahan SK PPPK yang seharusnya dilakukan secara serentak dan sakral di lokasi, langsung dibatalkan. Iya, batal. Bubrah. Gugur sebelum berkembang.
“Lah, cuma pelepasan balon, kok merembet ke SK. Bupati kok baperan,” sindir netizen.
Namun jangan panik. Sebab, sang bupati menyampaikan klarifikasi penuh kedamaian. SK tetap dibagikan, tapi secara diam-diam, di kantor masing-masing, dengan protokol yang lebih steril dari ruangan vaksinasi.
Netizen tentu saja tidak diam. Meme bertebaran. Mulai dari balon yang dikasih caption “Saya lelah jadi simbol upacara”, hingga wajah bupati yang diedit sedang mengejar balon dengan jaring kupu-kupu.
Yang tadinya niatnya bikin momen viral karena pelantikan massal, justru jadi viral karena balon kabur duluan. Sebuah pelajaran pahit bagi bangsa yang terlalu serius terhadap hal-hal remeh, dan remeh terhadap hal-hal serius.
Begitulah negeri ini. Di tengah kekacauan ekonomi, krisis lingkungan, dan harga cabai yang fluktuatif seperti status hubungan selebgram, justru kita disibukkan oleh momentum balon.
Tapi dari insiden ini kita sadar satu hal, dalam hidup, jangan salah tafsir aba-aba. Bisa-bisa niat mau foto bersama, eh malah dibubarkan tanpa SK.
Dari insiden ini kita belajar bahwa hidup bukan tentang SK. Bukan juga soal balon. Tapi soal momentum. Kalau kau terlalu cepat, kau disalahkan. Kalau kau telat, kau ditinggal. Maka jadilah seperti balon, ringan, ceria, tapi patuh protokoler.
Untuk para pegawai PPPK, selamat atas pelantikannya. Semoga SK kalian tidak terbang juga, bersama harapan dan janji-janji masa depan. Jangan lupakan foto bersama. Karena di negeri ini, tanpa foto, nuan tidak pernah ada.
Percayalah, di negeri ini, balon pun bisa jadi biang kerok kegagalan sistem. (Tim)
#camanewak
#RosadiJamani
#KetuaSatupenaKalbar #FotoIlustrasi #Opini











