https://dashboard.mgid.com/user/activate/id/685224/code/68609134aa79c3b5cb0177965d610587
Nah..!!! Ratusan Perangkat Desa Batang Hari Akan Adakan Aksi Solidaritas Tuntut Hak Gaji Luar Biasa..!!!Kejagung RI Sita Uang Ratusan Miliar dalam Perkara PT Duta Palma Korporasi LP Kelas IIB Muara Bulian Sediakan Sarana Asimilasi dan Edukasi untuk Tingkatkan Kualitas Pembinaan Warga Binaan Wakapolri Nyatakan, Jurnalis Tidak Bisa Di Jerat UUD ITE Banyak Kabel Udara Tidak Miliki Izin Dan Tidak Melapor ke APJII Jambi,
LBH-LKM Bersipat Sosial dan Kemanusian Dalam Memberikan Bantuan Hukum Kepada Masyarakat di Indonesia. Boleh Konsultasi Hukum Gratis Disini dan KLIK Logo di Bawah Ini Ya..!!!

Home / Ekonomi

Kamis, 30 Oktober 2025 - 08:44 WIB

Dugaan Mafia Tambang Batubara di Jambi, KPK di Minta Dalami Kerugian Negara

JURNALISHUKUM.COM, JAMBI – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI diminta untuk melakukan pendalaman terhadap perusahaan tambang batu bara yang merugikan negara hingga puluhan miliar rupiah.

Herman, tokoh masyarakat Kota Jambi, mengungkapkan bahwa saat ini masih banyak para mafia pertambangan batu bara yang berada di lingkaran penguasa daerah yang berkeliaran.

Dikatakan dia, para mafia tambang ini sangatlah piawai dalam mengamankan Aparat Penegak Hukum (APH) di Jambi. Maka dari itu dirinya meminta kepada KPK turun langsung ke Jambi.

“Terdapat sejumlah nama pengusaha tambang yang telah terbukti merugikan negara hingga puluhan miliar rupiah namun tidak tersentuh hukum. Maka dari itu saya minta KPK ikut andil dalam berantas mafia tambang di Jambi,” ujar Herman kepada media.

Adapun perusahaan tambang batu bara di Jambi yang merugikan negara hingga puluhan miliar rupiah tersebut diantaranya PT Bumi Bara Makmur Mandiri (BBMM).

Perusahaan itu diduga telah melakukan manipulasi data produksi tambang guna menghindari kewajiban perusahaan untuk pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Perusahaan tambang batu bara di wilayah Koto Boyo, Kecamatan Batin XXIV Kabupaten Batang Hari milik Ade Yanti – sapaan Ade Erlanda tersebut diduga telah menunggak pembayaran PNPB ke negara berkisar Rp 40 Miliar.

Kamaluddin Havis, mantan Anggota DPRD Provinsi Jambi, mengatakan bahwa terdapat perusahaan tambang milik Yanti (isteri Ade Erlanda) yang tidak membayar PNBP hingga miliaran rupiah.

“Terdapat perusahaan tambang di Koto Boyo yang tidak membayar PNBP ke negara. Sehingga negara dirugikan. Skema yang digunakan adalah melaporkan produksi batubara lebih rendah dari kenyataan untuk menghindari kewajiban pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP),” kata Kamaludin Havis.

Havis memaparkan, misalnya satu pit tambang memproduksi 10.000 ton, tapi hanya dilaporkan 4.000–5.000 ton. Selisihnya dijual gelap, dan negara dirugikan karena PNBP tidak dibayar penuh.

BACA JUGA  MA Putuskan Mantan Napi Tipikor Tak Dapat Menjadi Caleg di Seluruh Tingkatan

“Harusnya Pemprov Jambi dan Inspektur tambang harus tegas menindak perusahaan yang tidak taat aturan. Selain negara, daerah juga mengalami kerugian dalam hal ini,” cetus Havis.

Untuk diketahui, meskipun telah dilarang secara resmi untuk beroperasi di lokasi tambang karena belum membayar PNBP, namun tidak dihiraukan oleh Yanti bos dari PT BBMM.

“Perusahaan tersebut masih beroperasi di lokasi tambangnya tapi memakai izin perusahaan lain. Itulah hebatnya Yanti ini dalam dunia pertambangan Jambi,” ungkap M, salah satu pengusaha tambang batu bara di Jambi.

Sementara hingga berita ini diterbitkan, Ade Erlanda belum berhasil untuk di Minta keterangan dan menurut kabar beliau lagu melaksanakan ibadah umroh di Kota Mekkah. (Ist)

Editor : Heriyanto S.H.,C.L.A

Sumber : www.pemayung.id

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Viral…!!! ASN Batang Hari Tanyakan Gaji Ke 13 Yang Tidak Kunjung Cair

Cerita Rakyat

Penundaan Dana TC MTQ Melainkan, Munir : Dampak Temuan BPK RI di Pemkab Batanghari

Cerita Rakyat

Warga Mersam Batanghari Keluhkan Pembangunan Jalan Lingkungan Yang Sudah Dirusak

Bisnis

Untuk Petani Perkebunan dan Pertanian di Jambi Dapat Memesan Pupuk Organik Melalui Media Online Ini

Ekonomi

Aduh..!!! Makan Minum di Cafe Seduh.an di Taman Wisata Sungai Bujang Tak Sesuai Bayaran

Ekonomi

Polemik Kepemimpinan di Moskona Barat: Dana Desa Hilang, Warga Kecewa, Janji Politik Dipertanyakan!

Ekonomi

How One Furniture Manufacturer Goes ‘Beyond Sustainability’

Ekonomi

Tidak Ada Kompensasi, Pelabuhan Batubara Milik PT DPP Juga Cemari Lingkungan
error: Content is protected !!